oleh: Rotua Natali Simanjuntak

Api di tungku menyala kecil. Dengan sabar, Ibu Uun memasukkan lagi plastik bekas pembungkus barang belanjaan ke dalam bara api tungku. Saya melingkarkan selendang di leher, sambil sesekali meletakkan tangan ke dekat api yang semakin menyala besar. Saya belum terbiasa dengan udara dingin di sini. Sambil memasak, ternyata Ibu Uun memperhatikan saya. Sambil tertawa dia bertanya: “Dingin ya?”

Saya hanya menganggukkan kepala dan tersenyum sambil menikmati suguhan teh buatannya.

Saya beruntung, kedinginan saya membuatnya menceritakan tentang perubahan suhu udara di desa ini, Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi. Ternyata, sekitar satu dasawarsa lalu, suhu udara di sini lebih dingin dari yang saya rasakan sekarang. Desa ini juga sudah menunjukkan gejala lain, yaitu keringnya beberapa aliran mata air. Dia berpendapat, ini terjadi karena penebangan pepohonan dan hutan sekitar untuk dijadikan lahan pertanian.

Pagi berlalu dan siang pun datang. Saya dan tiga orang teman (Mona, Yudi, dan Peri) memberikan sedikit bantuan pada keluarga Ibu Uun, induk semang kami, dengan membuat lonceng pengusir burung pipit di sawah yang mulai menguning. Kemudian, kami mendaki bukit untuk mengamati keadaan bentang alam (landscape) yang katanya sudah berubah. Selama pendakian, kami menemukan sekitar dua aliran mata air yang sudah mengering. Belum puas dengan penemuan itu, kami lanjut mendaki. Pada ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami melihat seorang lelaki, kira-kira usia 45 tahun, sedang membersihkan lahan kebun kopi. Tidak jauh darinya, ada beberapa batang pohon yang sudah tumbang. Kami menduga, mungkin itu juga ulahnya sendiri.

Ada yang lebih menyolok saat kami memandang ke arah bukit yang lain. Pepohonan hasil penebangan di sana masih tergeletak di tanah. Lahan gundul terlihat di atas bukit. Ternyata cerita yang saya dengar pagi tadi tidak terlalu keliru.

Entah lelah karena mendaki atau pemandangan ‘lahan kritis’, kami memutuskan pulang. Kami menghabiskan sisa senja dengan memancing di kolam ikan sebelah rumah. Hasilnya, lumayan untuk menambah hidangan makan malam. Sambil menikmati makan malam, kami menceritakan hasil pengamatan sore tadi saat mendaki bukit. Ibu Uun, kali ini bersama suaminya, membenarkan cerita kami.

deforesttation-in-national-park

Panorama baru di kawasan penyanggah Taman Nasional Kerinci Seblat, di perbatasan antara Desa Pulau Tengah dan Desa Rantau Kermas, dengan puncak Gunung Masurai (2.953 mdpl) di latar belakang. Empat tahun lalu, 2012, bentang alam di tempat ini masih menyajikan pemandangan rimbunan hutan sekunder, bahkan primer. Kini, hanya hamparan terbuka sejauh mata memandang, nyaris tanpa pepohonan sama sekali (FOTO: BETA PETTAWARANIE).

Hidangan makan malam berganti dengan gelas-gelas berisi air kopi dan teh manis racikan masing- masing. Di sini memang begitu tradisinya. Setiap orang, termasuk tamu, membuat sendiri minuman sesuai selera. Sambil menikmatinya, Ibu Uun dan suami bergantian mengisahkan bagaimana bisa terjadi perubahan suhu udara dan lahan-lahan kritis di desa ini. Semua bermula saat pembangunan jalan lintas dari Kecamatan Jangkat menuju Bangko, ibukota Kabupaten Merangin. Akses jalan yang membaik membuat hasil pertanian bisa diangkut keluar kecamatan, sehingga penghasilan pun meningkat. Data lengkap yang menunjukkan peningkatan penghasilan warga setempat belum tersedia. Namun, mereka menceritakan bagaimana mereka mengalami perubahan itu. Terbukti dengan bertambahnya aset keluarga seperti sepeda motor, bangunan rumah baru atau rumah lama yang sudah diperbaiki.

Tidak hanya itu, lahan pertanian pun bertambah. Inilah yang memicu penebangan rimbunan pepohonan dan kawasan hutan sekitar yang seharusnya menjadi lahan penyanggah (buffer zone) atau daerah tangkapan air (water catchment area) yang sangat penting bagi desa. Kini, hampir semuanya berubah menjadi lahan pertanian.

Saya lantas menanyakan perihal kayu yang setiap hari mereka pakai untuk memasak. Seolah mengerti tujuan pertanyaan saya, Ibu Uun sambil tersenyum menjelaskan kalau dia sendiri belum pernah menebang pohon hanya sekedar untuk memasak. Dia mendapatkan kayu bakar dari batang ‘kulit manis’ (kayu manis, Cinnamomum burmanii) yang memang sengaja di tebang untuk dikubak (dikuliti). Hanya saja, dia tidak tahu apakah warga lain melakukan hal yang serupa dengannya.

Malam menghantarkan kami ke tempat tidur masing-masing. Saya tidak tahu persis apa yang dipikirkan tiga teman saya setelah mendengarkan cerita tadi. Sedangkan saya sendiri masih menghayal jauh, perubahan apa lagi yang akan terjadi nanti di desa ini?*

(KAMPUS DANAU PAUH, 27 Maret 2016)

———–

ROTUA NATALI SIMANJUNTAK (Adek), salah seorang peserta pendidikan Fasilitator dan Pengorganisir Masyarakat Yayasan Mitra Aksi, ‘Sekolah Danau Pauh’, Angkatan Pertama (Februari-April 2016). Selama masa pendidikan, mukim di rumah warga di Desa Pulau Tengah dan Muara Madras.

Written by Mitra Aksi