Maret 27, 2016 Program Tidak ada Komentar

Setelah bekerja keras sekitar empat bulan, Program Pertanian Berkelanjutan di Kawasan Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), kerjasama Yayasan Mitra Aksi dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), mulai memperlihatkan hasil. Pada hari Kamis, 27 Maret 2016, sekitar dua puluhan petani perempuan dan laki-laki memanen kentang oganik di lahan Pak Wulan, salah seorang petani setempat, di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi.

making trichoderm

Dua orang Fasilitator Lapangan Yayasan Mitra Aksi, Abdullah dan Anis Purwanti, memperagakan cara membuat trichoderma (zat perangsang tumbuh, ZPT) kepada para petani dan peserta ‘Sekolah Danau Pauh’ di kolong rumah Pak Wulan, 16 Februari 2016 (FOTO: BETA PETTAWARANIE).

Pak Wulan merelakan sebagian kecil (0,5 hektar) lahan disamping rumahnya sebagai lahan percontohan (demplot) atau ‘Lahan Belajar’ bersama untuk budidaya kentang organik. Para Fasilitator Lapangan Yayasan Mitra Aksi mendampingi mereka melakukan riset mikro-ekosistem lokal untuk tanaman kentang yang ramah lingkungan, rendah asupan kimia, dan berbiaya murah. Sejak November 2015, mereka mengamati keadaan tanah, memilih benih, mengenal berbagai jenis hama dan penyakit, menerapkan pola tanam baru, membuat pembasmi hama dan pupuk alami, serta memantau perkembangan tanaman sampai panen.

Hasilnya tidak mengecewakan, bahkan menumbuhkan harapan. Parlan, Koordinator Program yang bermarkas di Stasiun Lapangan Yayasan Mitra Aksi di Dusun Danau Pauh, sekitar 2 kilometer dari lahan percontohan, menyebutkan hasil panen mereka mencapai 7.5 ton. Dengan kata lain, 15 ton per hektar. Sebelumnya, dengan budidaya pertanian padat asupan kimia yang mahal, petani setempat hanya mampu memanen hasil rerata 8-9 ton per hektar. Ini berarti terjadi kenaikan produktivitas sekitar 60-80%.

PULAUTENGAH_potato-harvest1

Mengemas hasil panen di lahan percontohan budidaya kentang organik di Desa Pulau Tengah, 27 Maret 2016 (FOTO: JOHN LOVENA).

Mutu panen juga bertambah baik. Dengan cara budidaya bukan organik sebelumnya, hanya sekitar 50% biji kentang mampu mencapai ukuran besar yang laku di pasaran, sementara sisanya berukuran sedang atau kecil yang biasanya kurang laku dijual dan akhirnya sering dibuang percuma. Kali ini, dengan budidaya organik, hasil panen biji kentang berukuran besar mencapai 65%, atau terjadi perbaikan mutu hasil panen sebesar 15%. Perhitungan biaya produksinya pun memperlihatkan penghematan yang signifikan. Sebelumnya, dengan budidaya bukan organik, biaya produksi rerata Rp 15 juta per hektar. Kini, dengan budidaya organik, biaya produksi tercatat hanya Rp 9 juta per hektar, atau penurunan sekitar 60% juga.*

 

Written by Mitra Aksi