Maret 29, 2016 Program Tidak ada Komentar

Satu lagi langkah maju dicapai oleh Program Yayasan Mitra Aksi di kawasan penyanggah Taman Nasional Kerinci Seblat. Hari Senin, 29 Maret 2016, warga Dusun Lubuk Tamiang, Desa Muara Madras, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi, secara swadaya membangun sarana ‘Pondok Belajar Petani’ dusun mereka. Sarana yang dibangun dari bahan-bahan lokal (kayu dan bambu) tersebut dimaksudkan sebagai pusat informasi dan pendidikan bagi para petani di Desa Muara Madras dan sekitarnya. Dibangun di atas tanah dusun seluas kurang lebih 0,5 hektar, sarana tersebut terdiri dari satu ruang terbuka (pendopo) serbaguna, ruang penyimpanan peralatan, pelataran pembuatan pupuk organik, dan lahan percontohan (demplot). Yayasan Mitra Aksi menyumbangkan satu mesin pencacah sampah untuk keperluan pembuatan kompos dan pupuk alami.

Para anggota Kelompok Tani Dusun Lubuk Tamiang menyiapkan bahan-bahaan kayu dan bambu membangun Pondok Belajar Petani di dusun mereka (FOTO: A. SYAIFUL ANSHORI).

Para anggota Kelompok Tani Dusun Lubuk Tamiang menyiapkan bahan-bahaan kayu dan bambu membangun Pondok Belajar Petani di dusun mereka (FOTO: A. SYAIFUL ANSHORI).

Ibu-ibu Dusun Lubuk Yamiang ikut bergotong-royong memnyiapkan lahan percontohan di samping bangunan Pondok Belajar Petani yang sedang dibangun (FOTO: A. SYAIFUL ANSHARI)

Ibu-ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT)  Dusun Lubuk Tamiang juga aktif ikut bergotong-royong menyiapkan lahan percontohan di samping bangunan Pondok Belajar Petani yang sedang dibangun (FOTO: A. SYAIFUL ANSHARI)

“Setelah bangunan utamanya selesai, segera menyusul kebun bibit yang kami rencanakan akan menjadi Kebun Bibit Desa (KBD) untuk memasok para anggota kelompok tani kami maupun petani lainnya,” jelas Pak Mawardi, Kepala Dusun Lubuk Tamiang yang juga berperan sebagai penggerak kelompok petani lokal. “Mengetahui prakarsa kami ini,” lanjutnya, “Ibu Bupati Merangin berjanji akan segera mengerahkan semua tenaga PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Kecamatan Jangkat untuk mendukung kami dengan cara menyumbangkan bibit-bibit tanaman. Setiap PPL akan diminta menyumbang 200 bibit.” Data Dinas Pertanian Kabupaten Merangin menunjukkan ada 11 orang PPL yang bertugas di Kecamatan Jangkat. Ini berarti, KBD tersebut akan segera memiliki sediaan bibit sebanyak 2.200 sebagai langkah awal.

Kordinator Program Mitra Aksi di Merangin, Parlan, menganjurkan agar kelompok tani yang mengelola pondok belajar dan kebun bibit tersebut mengajukan jenis-jenis bibit yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan petani. “Sebaiknya,” lanjut Parlan, “petani di sini mulai lebih mengarah pada tanaman-tanaman keras jangka menengah dan jangka panjang. Itu lebih sesuai dengan kebutuhan untuk memulihkan kembali lahan-lahan kritis di daerah ini. Selain itu, juga akan lebih menguntungkan secara ekonomis bagi para petani sendiri. Para petani di daerah ini sebenarnya perlu mulai menganeka-ragamkan jenis tanaman mereka, jangan hanya terpaku pada satu jenis tanaman seperti kentang yang selama ini paling banyak menjadi usaha tani pokok mereka. Lagipula, tanaman-tanaman jangka pendek atau semusim semacam itu terlalu banyak biaya asupan dan proses pemeliharaannya. Petani di sini juga sudah mampu mengadakan bibit mereka sendiri.”

Kepada para petani Lubuk Tamiang, dianjurkan mengajukan daftar bibit jenis tanaman-tanaman seperti alpukat, pala, cengkeh, merica, dan kenari. “Pokoknya, jangan sampai sumbangan bibit dari PPL itu malah tanaman seperti sawit yang justru akan lebih memperparah keadaan lahan kritis di daerah ini,” kata Abdullah, salah seorang Fasilitator Lapangan Mitra Aksi di Merangin saat bertemu dengan beberapa orang petani Lubuk Tamiang di Stasiun Lapangan Mitra Aksi di Dusun Danau Pauh.*

Written by Mitra Aksi