April 25, 2016 Program Tidak ada Komentar

Setelah beberapa bulan melakukan percobaan, Rumah Agensi Hayati dari Stasiun Lapangan Mitra Aksi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, mulai mencapai satu hasil penting dalam rangka peningkatan mutu kopi liberika lahan gambut produk para petani setempat. Hasil tersebut adalah penghilangan rasa dan aroma ‘bau tanah’ nya yang menyengat dan tidak disukai oleh para penggemar kopi. “Seperti bau gambut,” kata Tan Jo Hann, pegiat senior South East Asia Communication Program (SEAPCP) yang juga seorang penggemar kopi dari Malaysia yang pernah mencoba mencicipinya saat berada di Jambi pada pertengahan Maret 2016 lalu. “Selain proses penggorengannya yang masih kurang bagus,” lanjut mantan pemilik dan pengelola ‘Five Cups Cafe’ di pusat kota Kuala Lumpur itu, “barangkali juga karena memang ditanam di lahan gambut.”

coffee-drying-domeNamun, masalah ‘rasa dan aromanya yang menganggu’ itu mulai teratasi. Hasil ini dicapai setelah para fasilitator lapangan Mitra Aksi membantu para petani setempat mempelajari dan memperbaiki cara-cara pengolahan produk kopi liberika mereka, terutama pada proses perlakukan pasca panen. Rumah Agensi Hayati Mitra Aksi di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Betara, membangun semacam ‘rumah pengeringan’ khusus (GAMBAR KANAN ATAS & TENGAH) di mana biji-biji kopi liberika produk kelompok tani setempat diolah dengan 6 (enam) perlakuan berbeda (GAMBAR KANAN BAWAH).

liberica-coffee-insde-domePara petani setempat sudah mencoba mencicipi hasilnya dan mulai menyenangi kopi produk mereka sendiri. Salah seorang petani di sana bahkan mengaku, “Saya sudah berhenti minum kopi ‘sachet‘ instan dan mulai minum kopi produk kami sendiri ini.” Anis Purwanti, peneliti dan praktisi biologi terapan yang juga fasilitator lapangan dan pengelola Rumah Agensi Hayati Mitra Aksi di Mekar Jaya, menjelaskan bahwa beberapa pejabat pemerintahan kabupaten, termasuk Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, juga sudah mencicipi dan mengakuinya.

liberica-treatmentHasil tersebut adalah satu pencapaian penting, karena telah memulai langkah menentukan untuk mengatasi salah satu masalah ‘kelemahan perbandingan’ (comparative disadvantage) kopi liberika (Coffea liberica) selama ini yang masih terus kalah bersaing dengan tiga jenis kopi lain yang sudah sangat terkenal dan digemari luas, yakni arabica, robusta, dan excelsa. Masalah itu pula lah yang menjadi salah satu faktor pendorong utama bagi Rumah Agensi Hayati Mitra Aksi berusaha membantu petani setempat mencari jalan keluarnya melalui satu rangkaian riset dan percobaan yang sistematis. Selain perbaikan pengolahan produk pasca panen, Rumah Agensi Hayati Mitra Aksi di Desa Mekar Jaya juga masih melanjutkan riset dan percobaan untuk membantu petani mempelajari dan memperbaiki teknik-teknik budidaya dan perlakuan tanaman kopi liberika mereka. “Misalnya,” lanjut Anis Puwanti, “kami masih mempelajari terus serangan penyakit jamur putih pada tanaman kopi para petani. Hasil pengamatan kami menunjukkan sumber penyakit itu adalah tunggul-tunggul pepohonan kayu besar yang melapuk di lahan kopi para petani.”

Meningkatkan mutu produksi kopi liberika para petani di Tanjung Jabung Barat sangat penting secara ekonomis, karena ratusan, bahkan ribuan rumah tangga petani di kawasan lahan gambut luas di daerah tersebut sudah menanam kopi liberika sebagai salah satu tanaman perdagangan (cash crop) utama mereka. “Luasan lahannya di seluruh wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat sekarang sekitar 2.800 hektar, bahkan sudah mencapai sampai ke sekitar Kuala Tungkal, ibukota kabupaten,” jelas Adi Candra, Kordinator Program Mitra Aksi di Tanjung Jabung Barat. Menurutnya, petani yang difasilitasi langsung dan intensif oleh Mitra Aksi yang masih terbatas hanya di Desa Mekar Jaya saja, sudah mencapai 97 orang dengan luas lahan rerata 1 hektar per orang atau minimal sekitar 50 tegakan pohon kopi liberika di dalamnya. “Itupun kalau diselingi cukup rapat dengan tanaman pohon pinang,” lanjutnya. “Jika pinang sebagai tanaman sela nya tidak terlalu rapat, jumlah pohon kopinya bisa jauh lebih dari 50 tegakan per hektar.” (GAMBAR BAWAH)

liberica-orchardJika perbaikan mutu produk kopi liberika dapat diperbaiki, minimal mencapai taraf baku (standard) seperti jenis kopi arabika, robusta, dan excelsa, termasuk dalam hal rasa dan aroma yang sangat menentukan nilai komersialnya di pasaran umum, maka nilai ekonomis kopi liberika ribuan petani Tanjung Jabung Barat pun akan turut meningkat. Pada gilirannya, sebagai tujuan strategis jangka panjang, hal itu akan sangat membantu memperbaiki mutu ekosistem lahan gambut setempat. Perbaikan itu akan lebih menarik para petani untuk menanam kopi liberika, beralih dari kelapa sawit yang selama ini menjadi tanaman perdagangan utama mereka. Itu berarti membantu memulihkan kembali ekosistem lahan gambut yang selama ini semakin rentan akibat perluasan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran di daerah tersebut, termasuk oleh para petani setempat sendiri.

Written by Mitra Aksi