Demplot-demplot pertanian organik dataran tinggi dampingan Mitra Aksi di kawasan penyanggah Taman Nasional Kerinci Seblat mulai memanen hasil. Setelah beberapa demplot di desa-desa Pulau Tengah, Renah Alai, dan Muara Madras, kini giliran demplot di Desa Rantau Kermas. Hari Minggu, 15 Mei 2016, demplot kentang organik di lahan seluas 1 hektar milik Pak Roma, salah seorang petani warga Rantau Kermas, memanen 16,5 ton kentang. Hasil panen ini jauh lebih baik dibanding hasil panen dengan cara-cara budidaya bukan organik selama ini yang hanya menghasilkan rerata 7.5 ton per hektar. Dengan kata lain, terjadi peningkatan produktivitas hampir dua kali lipat (93,3%).

potatoes-fieldnotesSelain itu, cara-cara budidaya organik ini juga mampu memperbaiki mutu kentang yang dihasilkan. Pada cara-cara bukan organik selama ini, seluruh hasil panen sebesar 7,5 ton per hektar itu, biasanya separuh (50%) atau sebagian besarnya adalah kentang peringkat mutu (grade) B. Dari 16,5 ton kentang hasil budidaya organik di lahan Pak Roma kali ini, sebagian besarnya (14 ton, atau 87,9%)  menghasilkan kentang peringkat mutu A dan hanya sebagian kecil (2 ton, 12,1%) peringkat mutu B. Dengan harga pasar sekarang Rp 4.800 per kg (peringkat mutu A) dan Rp 2.500 per kg (peringkat mutu B), Pak Roma akan menghasilkan uang tunai sebesar Rp 74,6 juta. Dikurangi dengan seluruh biaya produksi sebesar Rp 20 juta, Pak Roma akan meraup keuntungan bersih Rp 54,6 juta. Jumlah biaya produksi pada cara-cara organik yang kali ini diterapkan memang lebih besar dari cara-cara bukan organik sebelumnya yang hanya Rp 17,5 juta per hektar. Namun, perbedaan biaya tersebut bukan pada proses produksi, tetapi lebih pada biaya-biaya pasca panen, yakni ongkos kerja panen dan angkut hasil (lihat catatan tulisan tangan pada gambar sebelah kanan).

Hasil panen demplot kentang organik di Desa Rantau Kermas tersebut semakin meyakinkan warga petani setempat bahwa cara-cara budidaya organik, terutama pada penanganan benih dan pengolahan lahan, terukti mampu meningkatkan kembali produktivitas lahan mereka yang selama beberapa tahun terus menurun. Hasil tersebut, dalam jangka panjang, akan sangat membantu menahan laju pertambahan luas lahan kritis dikawasan penyanggah Taman Nasional Kerinci Seblat. Karena, salah satu penyebab utama semakin meluasnya lahan-lahan kritis di kawasan tersebut adalah pembukaan lahan-lahan baru untuk budidaya pertanian. Program Mitra Aksi di kawasan tersebut adalah memfasilitasi para petani dan warga setempat memulihkan kembali produktivitas lahan-lahan budidaya mereka sehingga, pada gilirannya nanti, mereka tidak perlu melakukan perluasan lahan, apalagi dengan cara merambah kawasan hutan di sana yang sebagian besarnya terletak pada kontur-kontur lereng terjal dengan kemiringan rerata 40-60 derajat.

 

 

 

Written by Mitra Aksi