Bertani Organik Bersama Para Pendekar Kecil dari Desa “Kota Kandis Dendang”

Bertani Organik Bersama Para Pendekar Kecil dari Desa “Kota Kandis Dendang”

Anak – anak adalah asset bangsa yang tak ternilai harganya, nasib negeri ini bergantung kepada anak –anak bangsanya. Untuk itu perlu dipersiapkan secara optimal pendidikan yang terbaik bagi anak – anak agar nantinya siap untuk meneruskan perjuangan bangsa terdahulunya. Bila berkaca dari sejarah, nenek moyang bangsa ini adalah para pejuang tangguh walau dengan perjuangan yang tidak mudah selama 3,5 abad, namun akhirnya mampu mengusir penjajah dari bumi persada. Tentu kita sangat berharap generasi penerus yang sudah pasti akan menggantikan kaum tua juga memiliki jiwa yang tangguh serta mampu melanjutkan perjuangan bangsanya sampai ke anak cucunya kelak. Sejarahpun sudah membuktikan bahwa nenek moyang kita sudah jauh berabad menjadikan pertanian sebagai tumpuan kehidupan sampai kepada era milenial ini. Perkembangan pertanian di Indonesia saat ini sudah mulai banyak ditinggalkan terutama kaum milenial yang lebih lebih memilih profesi yang lain ketimbang menjadi petani. Petani dianggap profesi yang ketinggalan dan kolot, serta menganggap tidak ada lagi penghidupan layak di dalamnya. Sehingga wajar saja bila jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan yang drastis setiap tahunnya. Pada akhirnya hanya menyisakan kaum – kaum tua saja yang mengolah lahan pertanian sedangkan kaum mudanya hanya sedikit.

5 orang anak warga desa kota kandis dendang sedang menikmati timun organik hasil dari tanaman sekolah lapang

Menyikapi kondisi tersebut, tentu kita perlu strategi khusus agar kaum milenial ini mau menjadi petani. Salah satu caranya adalah mendidik mereka dimulai sejak usia dini. Seperti ide cemerlang yang digagas oleh beberapa tenaga pendidik di salah satu sekolah PAUD/TK Berkah yang ada di Desa Kota Kandis Dendang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini. Mereka menangkap sinyal positif terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Mitra Aksi melalui Sekolah Lapangnya karena kebetulan letak antara kedua lokasi sekolah TK/PAUD Berkah dan Sekolah Lapang Mitra Aksi berdekatan hanya berjarak sekitar 400 meter. Secara otomatis, kegiatan – kegiatan yang dilakukan di Sekolah Lapang tersebut terpantau dengan baik dari sekolah TK/PAUD ini. Di Sekolah Lapang Mitra Aksi ini sedang dikembangkan pertanian organik dimana sistem pertanian inilah yang saat ini gencar digalakkan dan disosialisasikan kepada masyarakat di wilayah tersebut. Urgensinya adalah menyikapi semakin menurunnya tingkat kesuburan tanah gambut dari tahun ke tahun oleh karena pengolahan lahan yang kurang tepat yakni dengan sistem bakar dan meningkatnya penggunaan pupuk kimiawi yang mengakibatkan pencemaran tanah, air, hasil panen mengandung residu.

Bermula dari Tenaga pendidik yang berasal dari PAUD/TK Berkah yang mencoba membangun komunikasi dengan kelompok Sekolah Lapang yang berencana mengajak anak – anak didiknya untuk mengenalkan sejak dari usia dini tentang jenis – jenis tanaman yang ada di desa tersebut. Seperti dikatakan Koordinator Program Ahmad Syaiful Anshori, Sekolah Lapang Mitra Aksi yang bekerjasama dengan Belantara Foundation “kegiatan ini adalah inisiatif dari guru pendidik tersebut. Dengan diakannya kunjungan dari sekolah ini diharapkan mereka dapat mellihat secara langsung kegiatan Sekolah Lapang yang dilakukan Mitra Aksi bersama Kelompok Tani. Mereka ingin mengenalkan anak – anak tentang tanaman, hal ini sangat positif dan merupakan dasar yang harus diketahui. Mulai dari mengenal jenis – jenis tanaman lokal, cara bertani, cara pengelolaan lahan, pembersihan lahan sampai kepada para petani yang tidak lagi melakukan pembakaran untuk membuka lahan. Disisi lain ketertarikan dari guru pendidik untuk bermitra dengan kawan – kawan yang tergabung di Sekolah Lapang Mitra Aksi bukan tanpa alasan, mereka juga nantinya akan diperkenalkan dengan pupuk organic dan pupuk cair yang dibuat oleh masyarakat di Sekolah Lapang dimana bahan – bahan untuk membuatnya pun dapat didapat secara mudah dan gratis dari alam sekitar mereka, bukan lagi menggunakan pupuk kimia.”

Sebanyak ±30 murid PAUD/TK Berkah RT. 18 Desa Kota Kandis Dendang yang berkunjung ke Sekolah Lapang dengan didampingi oleh dua orang tenaga pendidik. Ini adalah kali pertamanya tenaga pendidik membawa anak-anak Paud/TK untuk berkunjung ke Sekolah Lapang. Antusiasme dan kegembiraan anak – anak ini terpancar mana kala bertemu dengan alam bebas yang menyuguhkan hijau – hijauan tanaman di sekeliling mereka. Tak lama mereka datang, disambut dengan Koordinator program dan beberapa Kelompok Tani yang sedang merawat dan membersihkan tanamaman. Diakui oleh Koordinator program bahwa meski program Sekolah Lapang ini lebih berfokus kepada masyarakat dan kurang berfokus terhadap kemitraan bersama lembaga pendidikan formal, namun ketika ada lembaga pendidikan yang ingin ikut belajar di Sekolah Lapang maka Mitra Aksi akan merangkul dan mendukung kegiatan sekolah tersebut. “Menjadi catatan yang positif bagi Mitra Aksi yang melakukan kegiatan sekolah Lapang di Desa Kota Kandis Dendang, tahun ini ada salah seorang tenaga pendidik sadar akan pentingnya pengetahuan seputar pertanian organik.” Ahmad Syaiful Ansori menambahkan.

Ini merupakan titik awal yang nantinya diharapkan bisa berkelanjutan. Walaupun untuk kerjasama sejauh ini masih menjadi bahan diskusi bersama baik dari pihak PAUD/TK dan kawan – kawan pendamping di Sekolah Lapang Mitra Aksi. Seperti diketahui bahwa sebagian masyarakat di sekitar yang juga mengelola Sekolah Lapang ini, anak – anak mereka ada yang bersekolah di PAUD/TK Berkah. Sejauh ini keinginan dari pihak Sekolah PAUD/TK sendiri adalah mereka akan mengikutsertakan anak – anak didiknya untuk memetik atau memanen hasil dari pertanian organik dari Sekolah Lapang. Anak – anak bisa langsung belajar di sekolah lapang, seperti melakukan pengamatan tentang jenis – jenis tanaman dan mencicipi hasil panen yang ada.

Untuk menanamkan kecintaan anak – anak pada lingkungan merupakan salah satu materi/muatan ajar sekolah PAUD/TK diperlukan formulasi yang dikemas secara menarik dan attraktif sehingga kesan yang ditangkap adalah mengajarkan sekaligus mengajak anak – anak untuk bangga mengenal pertanian dan menjadi petani. Bahkan Ahmad Syaiful Anshori mengungkapkan, “Saya punya strategi bahwa ketika kita ingin mengenalkan kita terlebih dahulu mengajak dan melibatkan orang tua murid juga terlibat untuk mendampingi anak – anak mereka nantinya. Sehingga tertanam budaya sadar akan pentingnya pertanian organik.” Dengan adanya pelibatan wali/orang tua murid maka akan hidup rasa kepemilikannya, tanggung jawabnya dan cintanya tersebut akan tumbuh subur bila dipupuk sejak usia dini dari alam dan lingkungan sekitar.

Salah satu kegiatan selanjutnya akan dilaksanakan oleh Kawan – Kawan Mitra Aksi di Sekolah Lapang mengenai hal itu yakni mengundang dan melibatkan tenaga pendidik untuk bisa mengembangkan dan mendidik anak – anak murid di Sekolah PAUD/TK Berkah tentang sistem pertanian organik yang cocok di wilayah tersebut.*


Oleh : Tika Puspita Sari

Comments are closed.