Memperkuat Petani Pakar Menguasai Ruang Kehidupan

Memperkuat Petani Pakar Menguasai Ruang Kehidupan

Sejak 2014, pembangunan kawasan dan masyarakat perdesaan di Indonesia mendapatkan satu momentum penting melalui Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 (UU Desa). UU itu mengakui hak warga desa untuk membentuk satu wilayah desa yang otonom sesuai dengan sejarah (asal-usul) dan tradisi (adat) mereka. Selain itu, mereka mendapatkan pengakuan penuh untuk membangun wilayah desa mereka sesuai dengan kebutuhan nyata warganya, dan demi kepentingan mempertahankan kedaulatan atas ruang kehidupan (lebenstraum) mereka tersebut beserta seluruh sumbersumber penghidupan yang terkandung di dalamnya. Dalam kenyataannya, sebagian besar warga desa dan aparat pemerintahan mereka, terutama di luar Pulau Jawa, telah kehilangan kemampuan dasarnya sebagai suatu masyarakat yang otonom penuh (autochtonous community).

Ini merupakan warisan sejarah panjang selama lebih dari 30 tahun berada di bawah kekuasaan otoriter dan serba monolitik dari rezim militer Orde Baru (1966-1998). Salah satu kemampuan terpenting yang hilang tersebut adalah kemampuan mengelola sumberdaya lokal (sebagai sumber kehidupan) secara sistematis, terpadu, berkedaulatan, dan berkelanjutan.

Menanggapi momentum penting tersebut, Yayasan Mitra Aksi berprakarsa menyelenggarakan pelatihan petani pakar yang diharapkan melahirkan dan membangkitkan semangat para petani untuk mengolah,mengambil manfaat dan melindungi asset (tanah) sebagai sumber kehidupannya. Prakarsa ini dilakukan sejalan dengan gagasan yang sedang dilakukan oleh Mitra Aksi melalui program konservasi bentang alam alam penyangga TNKS berbasis tataguna lahan di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi yang didukung oleh TFCA Sumatera.

Pilihan ini juga didasarkan pada kondisi bentang alam sebagai ruang kehidupan mereka yang semakin kritis akibat kemampuan petani dalam mengolah,mengambil manfaat dan melindungi sumber kehidupannya (tanah dan air berserta kekayaan biodiversitynya) yang semakin lemah, akibat tekanan pasar yang didukung oleh kebijakan berorientasi produktivitas, tanpa memperhatikan kemampuan daya dukung lingkungannya. Harapan menjadikan asset kehidupan (tanah,air berserta biodiversity-nya) sebagai tumpuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani pada prakteknya jauh panggang dari api.

Di kawasan penyangga Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) Kecamatan Jangkat, yang menjadi fokus program konservasi bentang alam alam penyangga TNKS berbasis tataguna lahan. Kondisi ruang kehidupan warganya terus mengalami penurunan fungsi. Lahan-lahan kritis semakin meluas, luasan kawasan hutan makin mengecil, tingkat produktivitas lahan terus menurun. Disisi lain biaya produksi yang harus ditanggung petani terus meningkat (pembelian benih,pupuk, pestisida dan biaya pengolahan lahan).

Comments are closed.