ANCAMAN JANGKA PANJANG

Meskipun belum terlihat dampaknya secara mencolok, namun proses pencemaran lingkungan, terutama terhadap lahan dan sumber-sumber air, sebenarnya mulai memasuki tahap yang harus diwaspadai (early warning stage) khusunya di Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin – jambi.  Salah satu pertanda (indikator) pentingnya ditemukan justru di beberapa titik di hamparan lahan persawahan tak jauh dari pusat pemukiman , Di salah satu petak sawah yang ditumbuhi tanaman padi yang masih muda, terlihat gumpalan-gumpalan merah berminyak terapung di atas permukaan air sawah yang dangkal. Seekor kodok hijau terjebak di tengah gumpalan tersebut, menggeliat lemah menjelang ajal. Tanah di bagian pematangnya juga berwarna merah terang (lihat gambar-gambar di bawah).

Pemandangan serupa itu lazim ditemukan di lahan-lahan basah di kawasan tanah gambut yang airnya berkadar asam sangat tinggi. Tetapi di lahan subur tanah mineral dataran tinggi seperti di di kecamatan Jangkat , pemandangan tersebut jelas bukan hal biasa. Dengan kata lain, air mineral pegunungan yang mengairi sawah-sawah di Kecamatan Jangkat mulai pula berkadar asam tinggi. Tentu saja, hal itu mengundang tanda tanya besar. Dan, jawabannya ditemukan saat itu juga di salah satu petak sawah lainnya. Beberapa karung plastik bekas wadah pestisida dan herbisida berserakan di dekat salah satu pondok (saung) sawah. Karung-karung plastik itu, bersama karung-karung plastik lainnya bekas wadah pupuk kimia, nampaknya akan digunakan oleh sang pemilik lahan sebagai ‘bendera-bendera’ pengusir burung-burung pemakan padi

Sudah seberapa jauh sebenarnya tingkat pemakaian asupan kimia pertanian di pedesaan dataran tinggi merengin ini?

“Banyak… banyak sekali!” jawab salah seorang petani muda yang kebetulan berada di sana saat itu. Sehari sebelumnya, salah seorang tokoh masyarakat bahkan menuturkan satu kebiasaan baru banyak petani di desa sekarang yang menggunakan herbisida untuk membunuh rerumputan liar di sawah mereka. “Sampai tiga kali sebelum mulai tanam,” lanjutnya. “Belum lagi selama padi tumbuh sampai panen. Bisa sampai lima atau enam kali menggunakan herbisida. Alasannya? “Mereka bilang itu hemat tenaga, cepat, dan ampuh membunuh tuntas semua rumput. Entah mereka dapat ilmunya dari mana, mereka bilang itu teknik baru, namanya TOT (Tanpa Olah Tanah)… Memang, karena mereka tidak perlu susah-susah bajak dan balik tanah lagi sebelum tanam padinya.” Selain tidak menyadari dampak berbahayanya dalam jangka panjang, para petani Di Kecamatan Jangkat  yang mulai menerapkan cara-cara bercocok-tanam ‘serba jalan-pintas dan praktis’ itu juga mulai terjebak dalam satu sistem pengetahuan asing dan aneh yang semakin mencerabut dari akar dan sumber kehidupan utama mereka: tanah dan air!

Apakah seorang petani masih bisa disebut ‘petani’ jika tidak lagi mengolah tanah dan air?

Mendapat temuan dan data-data lapangan dari Tim Riset & Laboratorium Mitra aksi pada Tahun 2018, terkait kondisi Tanah dan Air di Kecamatan Jangkat, Mitra Aksi dalam Program Konservasi Bentang Alam Penyangga TNKS di wilayah Kecamatan Jangkat yang di dukung oleh TFCA-Sumatera Selain Fokus ke Perlindungan Kawasan Taman Nasional dan Rehabilitasi Lahan Kritis, Mitra Aksi juga mendampingi Petani hamparan sawah, terutama dalam pengolahan lahan dan Perawatan tanaman padi dengan pendekataan Pertanian Sehat yang bebas dari Pupuk & Racun Kimia. dengan harapan dapat mengurangi pencemaran lingkungan, terutama terhadap lahan dan sumber-sumber air di kecamatan Jangkat – Merangin.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *