Bertani selaras alam

TITIK TOLAK : Salah satu gejala menonjol selama beberapa tahun terakhir di kawasan penyanggah (buffer zone) Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah semakin meluasnya perambahan hutan dalam kawasan Taman Nasional tersebut.  Perambahan hutan besar-besaran (dan kontroversial) selama ini biasanya disebabkan oleh perluasan wilayah pemukiman baru dan industri ekstraktif (perkebunan skala besar atau usaha pertambangan).  Semakin meningkat dan meluasnya perambahan hutan di kawasan penyanggah TNKS justru terjadi oleh perluasan lahan budidaya pertanian  warga setempat atau para pendatang.

Warga asli desa-desa di dalam dan sekitar kawasan penyanggah TNKS, termasuk  enam Desa (Renah alai, Pulau tengah, Koto Renah, Muara Madras, Koto Renah dan Renah Pelaan)  di kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin – Jambi, sebagian dari warga juga melakukan perambahan. Meskipun luasannya tidak sebesar dan tidak seagresif para pendatang dari luar daerah, namun luasan maupun kecepatannya cenderung semakin meningkat pula, diperkirakan rerata 5-10 ha per tahun.

Alasan utama perambahan oleh warga  asli setempat ini terutama adalah karena semakin menurunnya tingkat kesuburan lahan pertanian mereka di sekitar pusat permukiman. terutama terjadi pada   enam Desa (Renah alai, Pulau tengah, Koto Renah, Muara Madras, Koto Renah dan Renah Pelaan)  yang kadar keasaman tanah-tanah pertaniannya sudah sangat rendah, atau sebaliknya sangat tinggi, antara lain, diduga akibat pemakaian asupan kimia yang berlebihan selama beberapa puluh tahun terakhir.

Karena dasar  itulah warga merambah kawasan hutan yang semakin melebar dan menjauh dari pusat permukiman untuk mendapatkan lahan-lahan baru yang masih subur. Lahan-lahan baru dalam kawasan hutan yang mereka rambah umumnya adalah lereng-lereng terjal (dengan kemiringan antara 40-80drajat) yang selama ini tidak disentuh, antara lain, sulit dijangkau justru karena keterjalannya. Akibatnya, kawasan sekitar TNKS menghadapi risiko bencana longsor yang semakin sering terjadi dan dalam skala yang semakin membesar, terutama pada musim penghujan, karena semakin berkurangnya tegakan pepohonan besar dan rapat untuk menahan luncuran (run-off) air permukaan.

Dengan sendirinya, tingkat kesuburan lahan-lahan tersebut mulai berkurang pula karena pengikisan humus di lapisan  permukaan (top-soil) nya yang terjadi secara terus-menerus. Penurunan tingkat kesuburan tanah tersebut semakin diperparah oleh dua faktor lainnya. Pertama, tidak ada pembuatan terasering untuk menahan laju pengikisan. Kedua, penggunaan berlebihan asupan luar (external inputs), terutama pupuk kimia buatan dan racun pembasmi hama.

Karena lahan-lahan baru yang mereka rambah juga semakin menurun tingkat kesuburannya, warga lalu melanjutkan perambahan semakin melebar dan meluas. Akibatnya lebih lanjut, terjadi perluasan lahan kritis di banyak desa di dataran tinggi Merangin  yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung TNKS. Sehingga, selama 5-10 tahun terakhir, luasan lahan kritis bisa di pastikan semakin bertambah pula dan kian masuk  kawasan hutan lindung penyanggah TNKS.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa harus ada penegakan hukum (law enforcement) yang ketat untuk mengatasi masalah ini. Namun, jika bertolak dari sebab-sebab atau alasan utama warga melakukan perambahan, maka tindakan penegakan hukum tidak akan cukup sama sekali. Sepanjang masalah mendasarnya –yakni menurunnya tingkat kesuburan lahan-lahan pertanian tradisional warga– tidak ditanggulangi, maka perambahan kawasan hutan yang kian memperluas sebaran lahan kritis di desa-desa khusunya di dataran tinggi Merangin, juga tetap akan berlangsung terus.

Karena itu, pemecahan masalah yang paling mendasar adalah bagaimana memulihkan kembali dan menjaga tingkat kesuburan lahan-lahan pertanian tradisional warga? Tindakan-tindakan konservasi harus dibarengi dengan tindakan-tindakan teknis budidaya yang lebih ramah lingkungan, sehat, dan murah biaya. Misalnya, dengan praktik-praktik pertanian organik, mengurangi asupan kimia pertanian, dan membangun terasering, mengatur Peruntukan lahan, Pengetahuan dan ketranpilan inilah yang Harus di asah dan dimiliki oleh sebagian besar petani di desa-desa dalam atau sekitar kawasan penyanggah TNKS.

Sampai pada Tahun 2020 kerja sama  Mitra aksi  dengan Petani,Tokoh adat, BPD dan Pemerintahan desa di Enam Desa, yang di dukung oleh TFCA-Sumatera mulai menampakkan hasil menggembirakan. Pada tataran penerima manfaat, mulai menguasai dasar-dasar konservasi dan pemulihan lahan kritis. Mereka (Petani) mulai mempraktekkan dan mentransformasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka kuasai. Mengidentifikasi kondisi biofisik lahan dengan menggunakan pH Tanah, meneliti ketebalan topsoil tanah dengan alat sederhana mulai dipraktekkan sebelum melakukan tindakan pengolahan lahan. Petani mulai meninggal praktek membuka lahan secara exploitatif tanpa terencana, mengurangi penggunaan input kimia dan menggantinya dengan menggunakan pupuk organik yang mereka buat sendiri. Intensifikasi dan Diversifikasi tanamana berbasis tataguna lahan mulai dipraktekkan dan disusun serta diusulkan menjadi kebijakan Desa.

Pada tataran pemerintah Desa, aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) berbasis data spatia-sosial-ekonomi dan tematik isu berdasarkan potensi, peluang telah digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan desa (Perdes, RPJMDes dan RPJ Desa). Bagi warga dan pemerintah desa, Data dan informasi keruangan juga digunakan sebagai pengetahuan bersama dalam mengelola, mengambil manfaat dan melindungi sumber-sumber kehidupan mereka. Proses mamadukan data dan informasi menjadi produk pengetahuan dan kebijakan mulai menghasilkan kearifan lokal.

dalam pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan. Ketersediaan data dan informasi terkait potensi Desa menumbuhkan inovasi pemerintah desa untuk berinvestasi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Di Desa Renah Pelaan misalnya, Pemeritah Desa mulai berani berinvestasi. dengan mendirikan BUMDES “Renah Sakti Kayo Abadi (RSKA)“. Inovasi mengintegrasikan potensi Desa, kearifan lokal, dan perlindungan ekosistem kawasan perdesaan, termasuk didalamnya upaya perlindungan benih lokal. Unit-unit usaha yang dikembangkan berdasarkan model “eco-techno-preneurship yang memadu selaraskan pengetahuan dan kearifan lokal dengan perkembangan teknologi modern termasuk hasil-hasil riset aksi mulai bertumbuh di tiap Desa.

Dalam konteks konservasi kawasan, model pendekatan sekolah lapangan yang didukung transformasi pengetahuan berbasis riset aksi bersama petani, telah mengubah cara pandang dan perilaku petani dalam mengelola, memperbaiki dan melindungi ekosistem yang ada. Lahan-lahan kritis yang sebelumnya dibiarkan terlantar dengan alasan tidak lagi produktif mulai dikelola dengan teknik perbaikan unsur hara secara organik dan melalui penanaman kembali berbagai jenis tanaman agroforest, seperti jeruk,alpukat, cengkeh, surian, dan kopi. Lahan-lahan pekarangan dan yang ada disekitar desa yang sebelumnya dibiarkan kosong mulai dikelola oleh kelompok-kelompok perempuan. Di Desa Muara Madras misalnya, lahan pekarangan yang kosong oleh kelompok wanita tani (KWT) mulai dimanfaatkan untuk budidaya hortikultura organik. Kegiatan ini juga mulai direplikasi desa-desa lain yang dimotori oleh kelompok wanita tani. Pada tataran kawasan perdesaan. Upaya yang dilakukan KWT ini memiliki tujuan mendapatkan penghasilan tambahan serta yang lebih penting menyediakan pangan sehat bagi diri dan keluarganya.

Dampak positif serta manfaat yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat dari praktek pertanian ramah lingkungan, menjadikan pendekatan direspon secara positif oleh Bupati Merangin yang dibuktikan dengan ada SK Bupati, tentang Penetapan Kawasan Pertanian Dan Desa Pertanian Organik Tanaman Pangan Hortikultra Dan Agroforest di Kabupaten Merangin seluas 2.193,12 hektar.

Dari aspek lingkungan, penataan kembali ruang kehidupan desa dengan berbagai jenis tanaman adaptif dan dilakukan secara organik mempercepat pemulihan ekosistem kawasan, mengurangi deforestasi dan degredasi hutan dan lahan, serta dapat mendukung penurunan emisi GRK yang menjadi komitemen Pemerintah Indonesia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *