MEMULIHKAN HUTAN & LAHAN KRITIS BERSAMA PETANI

  • Kesepakatan kerjasama untuk perlindungan dan konservasi penyangga TNKS di lakukan oleh enam Desa Penyangga TNKS ( Taman Nasional Kerinci Seblat)  Di kecamatan Jangkat – Merangin (Renah Alai, Pulau Tengah, Koto Rawang, Muara Madras, Koto Renah dan Renah Pelaan)
  • Petani pakar yang terlatih dengan Model Community Agroforestry Learning Centre.
  • Petani sudah mulai menerapkan dilahanya sendiri.

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah Kabupaten Merangin dalam kurung 20 Tahun Terakhir Terus mengelami tekanan Pembukaan dan perambahan lahan Ke dalam TNKS dan penyangga,  salah satu  pemicu adalah lahan-lahan yang di olah petani selama ini di luar kawasan sudah masuk dalam katagori kritis dengan ditandai dengan ph dibawah Lima, unsur hara N,P dan K rendah, hal ini disebabkan oleh penggunaan herbisida sebagai pembunuh rumput secara terus menerus, penggunaan pupuk kima, Penggunaan Pestisida kimia yang tinggi.

Untuk menekan laju pembukaan lahan baru ke arah Penyangga dan Taman Nasional Kerinci Seblat khusunya di Enam Desa penyangga TNKS,  Mitra Aksi bersama Petani dan Pemerintah Desa, BPD dan tokoh Adat yang di dukung Oleh TFCA – Sumatera, melakukan MOU Kesepakatan Kerja sama dalam Perlindungan dan Konservasi Penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat, dan MOU Kesepakatan Kerja sama dalam Perlindungan dan Konservasi Penyangga TNKS sudah di tanda tangani oleh enam Kepala Desa, BPD dan Tokoh adat dan sudah mulai di terapkan di Desa-desa masing-masing.

Sampai pada tahun 2020  sudah di Rahabilitasi dan dipulihkan lahan kritis seluas 1.213 Ha yang tersebar di enam Desa di kecamatan Jangkat(Renah Alai, Pulau Tengah, Koto Rawang, Muara Madras, Koto Renah dan Renah Pelaan) .

Selain Rehabilitasi Lahan kritis Mitra aksi Juga Melakukan Pendampingan dan pelatihan  petani pakar dengan Model Community Agroforestry Learning Centre, ada  sebanyak 40 orang petani pakar yang terlatih perwakilan dari enam desa yang nantinyadi harapkan  akan menjadi fasilitator/kader pengerak dalam melakukan budidaya tanaman agroforestri maupun horticultura didesanya masing – masing. Yang telah dibekali dengan proses pengolahan pupuk organik, pengembangan pestisida alami, pengembangan agency hayati, pengendaliah hama dan penyakit tanaman, menyambung /stek tanaman dan ekologi tanah (mengetahui Ph tanah, Struktur tanah, unsur hara tanah, daya ikat tanah dll)

Sepanjang 2018 sampai dengan Tahun 2020 sudah ada 1.049  petani terdiri dari (LK: 881 petani dan PR: 168 Petani )yang terlibat aktif secara langsung dalam proses budidaya tanaman horticultura dan agroforestri secara organik melalui model sekolah lapangan , Dengan materi belajar di sekolah lapang (pengolahan lahan tanpa bakar, tehnis pembuatan bedengan, persemaian tanaman, cara tanam, pemupukan, penggendalian hama dan penyakit, hingga panen sehingga setiap sekolah lapang horticultura, sampai dengan saat ini 85% dari anggota sudah menerapkan dilahanya sendiri terutama pembuatan pupuk organik, pembuatan pestisida alami, cara tanam, pengendalian hama, penyakit tanaman, pemilihan bibit dan pembibitan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *