Menata ruang & Sumber Penghidupan

Program Konservasi Bentang Alam Penyangga TNKS di wilayah Kecamatan Jangkat, kerja sama Mitra Aksi dengan TFCA-Sumatera mulai menampakkan hasil menggembirakan. Pada tataran penerima manfaat, mulai menguasai dasar-dasar konservasi dan pemulihan lahan kritis. Mereka (Petani) mulai mempraktekkan dan mentransformasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka kuasai. Mengidentifikasi kondisi biofisik lahan dengan menggunakan pH Tanah, meneliti ketebalan topsoil tanah dengan alat sederhana mulai dipraktekkan sebelum melakukan tindakan pengolahan lahan. Petani  mulai meninggal praktek membuka lahan secara exploitatif tanpa terencana, mengurangi penggunaan input kimia dan menggantinya dengan menggunakan pupuk organik yang mereka buat sendiri. Intensifikasi dan Diversifikasi tanamana berbasis tataguna lahan mulai dipraktekkan dan disusun serta diusulkan menjadi kebijakan Desa.

Pada tataran pemerintah Desa, aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) berbasis data spatia-sosial-ekonomi dan tematik isu berdasarkan potensi, peluang  telah digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan desa (Perdes, RPJMDes dan RPJ Desa). Bagi warga dan pemerintah desa, Data dan informasi keruangan juga digunakan sebagai pengetahuan bersama dalam mengelola, mengambil manfaat dan melindungi sumber-sumber kehidupan mereka. Proses mamadukan data dan informasi menjadi produk pengetahuan dan kebijakan mulai menghasilkan kearifan lokal dalam pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan. Ketersediaan data dan informasi terkait potensi Desa menumbuhkan inovasi pemerintah desa untuk berinvestasi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Di Desa Renah Pelaan misalnya, Pemeritah Desa mulai berani berinvestasi. dengan mendirikan BUMDES “Renah Sakti Kayo Abadi (RSKA)“. Inovasi mengintegrasikan potensi Desa, kearifan lokal, dan perlindungan ekosistem kawasan perdesaan, termasuk didalamnya upaya perlindungan benih lokal. Unit-unit usaha yang dikembangkan berdasarkan model “eco-techno-preneurship yang memadu selaraskan pengetahuan dan kearifan lokal dengan perkembangan teknologi modern termasuk hasil-hasil riset aksi mulai bertumbuh di tiap Desa.

Dalam konteks konservasi kawasan, model pendekatan sekolah lapangan yang didukung transformasi pengetahuan berbasis riset aksi bersama petani, telah mengubah cara pandang dan perilaku petani dalam mengelola, memperbaiki dan melindungi ekosistem yang ada. Lahan-lahan kritis yang sebelumnya dibiarkan terlantar dengan alasan tidak lagi produktif mulai dikelola dengan teknik perbaikan unsur hara secara organik dan melalui penanaman kembali berbagai jenis tanaman agroforest, seperti jeruk,alpukat, cengkeh, surian, dan kopi. Lahan-lahan pekarangan dan yang ada disekitar desa yang sebelumnya dibiarkan kosong mulai dikelola oleh kelompok-kelompok perempuan. Di Desa Muara Madras misalnya, lahan pekarangan yang kosong oleh  kelompok wanita tani (KWT) mulai dimanfaatkan untuk budidaya hortikultura organik. Kegiatan ini juga mulai merambah ke desa-desa lain yang dimotori oleh kelompok wanita tani. Pada tataran kawasan perdesaan. Upaya yang dilakukan KWT ini memiliki tujuan mendapatkan penghasilan tambahan serta yang lebih penting menyediakan pangan sehat bagi diri dan keluarganya. Dari aspek lingkungan, penataan kembali ruang kehidupan desa dengan berbagai jenis tanaman yang dilakukan secara organik dapat mendukung pemulihan ekosistem.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *