Mengurangi dampak krisis iklim

271 Views

Krisis iklim adalah ancaman terbesar yang sedang dihadapi umat manusia. Gelombang panas, kebakaran hutan, curah hujan ekstrem, banjir, angin topan, dan kemarau berkepanjangan adalah beberapa contoh bencana alam yang akan meningkat seiring diperparahnya krisis iklim. Laporan IPCC  2021 menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca (GRK) yang berasal dari aktivitas manusia merupakan penyebab utama krisis iklim baik dari sektor energi, transportasi, dan limbah, serta baik yang diproduksi secara individu maupun organisasi.

Untuk mengurangi dampak krisis iklim dan mencegah kenaikan suhu Bumi di atas 1.5C, dunia diperkenalkan pada pembangunan dengan konsep net zero emission yang membutuhkan transisi seluruh lini pada level individu (berbentuk transformasi gaya hidup masyarakat) dan level organisasi (berbentuk inisiatif program dan regulasi pemerintah serta dekarbonisasi supply chain perusahaan) demi mengurangi dan menyerap emisi GRK yang dikeluarkan dari aktivitas masing-masing aktor tersebut. Masalahnya, masyarakat dan perusahaan hari ini kesulitan dalam mengetahui jumlah emisi GRK yang dikeluarkan aktivitasnya sehari-hari dan belum memiliki solusi untuk mereduksi dan menyerap emisi GRK tersebut.

Oleh karena itu, Dalam penyerapan emisi GRK, Kegiatan saat ini berfokus pada solusi dengan skema nature-based solution (NbS) oleh hutan melalui kegiatan penanaman pohon yang bekerja sama langsungdengan Petani di Sekitar hutan, Dalam jangka panjang, solusi ini diharapkan tidak hanya mampu memitigasi krisis iklim, namun juga mampu mendukung kegiatan konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati, mendukung ketahanan pangan, dan meningkatkan kualitas hidup serta resiliensi masyarakat Indonesia

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *