PEMBELAJARAN BERBASIS PENEMUAN

66 Views

Ketika saya mendengar, saya lupa (When I hear it, I forget)
Ketika saya melihat, saya Ingat ( When I see it, I remember)
Ketika saya melakukan, saya menguasai (“When I do it, I own it for life)


Sektor pertanian di Indonesia sekarang ini masih menjadi sektor utama pembangunan nasional karena peranannya dalam penyediaan dan ketahanan pangan, bahan baku industri, pakan dan energi, penyediaan lapangan kerja, serta sumber devisa. Sebagian besar dari masyarakat Indonesia bergantung secara langsung atau tidak langsung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka. Sehingga sektor pertanian saat ini masih menjadi ruang dan bertumpu pada level menengah kecil. Sektor ini harus terus mendapat perhatian dan binaan sehingga ruang ini menjadi ruang kekuatan dan roda penggerak ekonomi di negara.

Berbagai upaya-upaya pembangunan pertanian selama ini sudah dilakukan, namun masih saja ada hambatan-hambatan, terutama kaitannya dengan perubahan lingkungan yang demikian dinamis, seperti pemanasan global,cuaca ekstrim, degradasi tanah dan kehilangan air akibat eksploitasi berlebihan, dan ketidakstabilan harga. Selain itu juga berbagai persolaan yang terus dihadapi langsung oleh petani di bidang pertanian yaitu tingginya biaya untuk pembelian pupuk pestisida (biaya input tinggi), rendahnya hasil produktivitas tanaman dan pertanian, serangan hama, lemahnya pasca panen, rendahnya pemasaran untuk produktivitas tanaman, dll. Situasi tersebut berdampak pada masyarakat yang tinggal di pedesaan khususnya petani memiliki penghasilan rendah dan menjadikan daya beli rendah. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kemiskinan.

Mitra Aksi sebagai lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada isu-isu pertanian organik selama ini telah melakukan berbagai program dampingan pemberdayaan petani di wilayah dataran tinggi dan rendah di Provinsi Jambi. Dalam melaksanakan program dampingan pemberdayaan petani dan meningkatkan kapasitas petani maka Mitra Aksi melakukan pendekatan dan metode Sekolah Lapang Petani (Farmer Field School). Pendekatan Sekolah Lapang (SL) adalah pendekatan pembelajaran yang inovatif, partisipatif dan interaktif yang menekankan pada pemecahan masalah dan pembelajaran berbasis penemuan. Sekolah Lapang bertujuan untuk membangun kapasitas petani untuk menganalisis sistem produksi mereka, mengidentifikasi masalah, menguji solusi yang mungkin, dan pada akhirnya mendorong peserta sekolah lapang untuk mengadopsi praktik yang paling sesuai dengan sistem pertanian mereka.

Sekolah lapang dikenal dengan “Sekolah Tanpa Dinding atau School without Wall”. Dikatakan tanpa dinding karena ruang kelas, perpusatakaan, mata pelajaran adalah dimana masyarakat bekerja dan hidup disitu. Kalau masyarakat tersebut adalah petani maka lahan garapannya adalah laboratotium sekaligus perpustakaannya. Selain itu, Sekolah Lapang merupakan pendidikan non formal dan pendidikan yang paling sesuai untuk petani sebagai orang dewasa dengan menerapkan pendidikan partisipatif dengan metode andragogi atau pendidikan orang dewasa. Ajaran andragogi pendidikan adalah bahwa pendidikan bukanlah sekedar pengalihan informasi baku dari guru kepada murid, melainkan kegiatan menggerakkan proses belajar dalam rangka memecahkan masalah. Istilah-istilah andragogi yang banyak dipakai adalaha “fasilitator” dan “narasuber” sebagai pengganti “guru”, memfasilitasi proses belajar sebagai pengganti “mengajar”; “warga belajar” sebagai penggnati “murid atau siswa” dan sebagainya (Paulo Feire, 1985).

Dalam melaksanakan kegiatan SL, Mitra Aksi bukan saja melibatkan masyarakat (petani) sebagai peserta SL tetapi juga aparat desa dan berbagai stakeholder untuk mendukung berbagai kegiatan di SL. Untuk lokasi SL biasanya Mitra Aksi menggunakan Tanah Kas Desa (TKD) ini sebagai bukti bahwa kegiatan SL didukung oleh aparat desa dan mereka sangat memberi dukungan untuk pelaksanaan SL dan peningkatan kapasitas petani. Sekolah Lapang ini dilengkapi dengan “Saung Belajar” sebagai wadah atau tempat bagi petani untuk belajar berbagai persoalan tentang pertanian. Di SL juga dilengkapi dengan berbagai demplot tanaman holtikutura dan pangan sebagai media pembelajarannya.

Untuk Identifikasi peserta SL yang memiliki perhatian atau minat yang sama kemudian mereka membentuk kelompok belajar. Jumlah peserta SL sekitar 15-20 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Peserta SL harus bisa menghadiri semua sesi, dan mau bekerja sama sebagai tim dan berbagi ide. Dalam melaksanakan SL, Mitra Aksi menempatkan seorang fasilitator untuk mendampingi petani belajar di Sl. Peran seorang fasilitator sangat penting dalam proses SL.

Selanjutnya setelah kelompok SL terbentuk, fasilitator Mitra Aksi mengembangkan kurikulum berdasarkan masalah utama yang diidentifikasi oleh kelompok. Bersama dengan kelompok, fasilitator memutuskan kegiatan mana yang akan dilakukan untuk mengeksplorasi masalah lebih jauh, menguji solusi, dan mengidentifikasi kegiatan yang dibutuhkan. Mereka juga akan mendiskusikan jenis tanaman yang akan ditanam di demplot SL dan mendisign lahan SL. Setelah jenis tanaman sudah disepakati bersama mereka mulai mengolah lahan demplot sesuai design yang disepakati, melakukan pembenihan, pelatihan ekologi tanah, pelatihan pembutan pupuk organik padat dan cair dan biopestisida alami.

Selanjutnye peserta SL yang didampingi oleh fasilitator Mitra Aksi mulai melakukan praktek pertanian di demplot Sl yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) pesemaian benih: jenis tanaman holtikulturanya sudah disepakati bersama pada saat pembutan kurikulum Program Sekolah Lapang Petani. (2) mengolah lahan; membuat pematang sesuai dengan design lahan yang sudah dibuat. (3) Penanaman; setelah benih tumbuh siap ditanam dilahan yang sudah dipersiapkan dengan yang sebelumnya di beri pupuk organik terlebih dahulu. (4) Pemupukan; setelah ditanam diberi pupuk organic dan disiram. (5) Perawatan; setelah tanaman ditanam maka harus rutin untuk merawatnya. Peserta Sekolah Lapang Petani akan rutin mengamati perkembangan tanaman tersebut dan mencatatnya. Jika ada hama ditanaman tersebut maka peserta SL akan mendiskusika bersama untuk mengatasi hama tersebut dengan menggunakan biopestisida alami yang telah dibuat bersama-sama. Disinilah fasilitator akan mengarahkan mereka bagaimana takaran pemberian biopestisida dan mencatat jenis-jenis hama-hama yang menyerang tanaman dan bagaimana mengtasi hama tersebut. (6) Panen; tanaman siap dipanen. Peserta kan mencatat berapa hasil panen dan berapa biaya pengeluarannya. Jadi mereka melakukan analisa usaha tani. Disinilah proses mereka saling belajar untuk terus melakukan observasi, menganalisa dan memutuskan apa yang akan mereka lakukan ketika ada hama ditanaman tersebut. mereka saling berdiskusi dan mencatat hal-hal penting untuk menjadi pembelajaran. Di Program Sekolah Lapang Petani ini menggunakan metode analisis agro-ekosistem. Proses discovery learning menjadikan mereka ahli di bidang pertanian. Di Sekolah Lapang ini tidak ada murid dan guru tetapi dengan proses belajar bersama didasarkan pada pengalaman (learning by doing).

Penerapan “Sekolah Lapang Petani” sebagai suatu langkah maju menuju pertanain yang adil dan berkelanjutan dituntut untuk “meramu” suatu pola pendekatan yang mampu menampung berbagai tantangan persoalan pertanian dalam suatu proses pendidikan yang terpadu dan dapat diselenggrakan secara efektif di tingkat komunitas. Transfer ilmu pengetahuan petani melalui Sekolah Lapang membuat Petani yang belajar di SL menjadi petani yang ahli dibidangnya memiliki kemampuan dan kreatifitas dalam mengembangkan lahan pertanianya dan bisnisnya.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang peserta Sekolah Lapang dampingan Mitra Aksi Ibu Sunarmi dari Desa Catur Rahayu, kec. Dendang, Kab, Tanjung Jabung Timur, yang menyatakan bahwa “hemmmm…. Saya sengat senang sekali terlibat di Program Sekolah Lapang Petani ini karena bisa meningkatkan pengetahuan saya. Kami sebagai peserta Sekolah Lapang Petani selalau dilibatkan mulai dari awal kegiatan Sekolah Lapang Petani. Seperti pembuatan kurikulum Program Sekolah Lapang Petani yang melibatkan peserta Sekolah Lapang Petani dengan menggali informasi potensi desa kami. Saya sekarang tahu bagaimana mengatasi tanaman saya ketika ada hama dengan memberikan pestisida alami yang telah kami lakukan di Sekolah Lapang Petani. Kurikulum Program Sekolah Lapang Petani disesuaikan dengan kebutuhan kami dan langsung dipraktekan, dianalisa, dan pengambilan keputusan sehingga kami menjadi menguasainya. Biasanya pertemuan kami mingguan dan belajar selama 3- 5 jam kadang di pagi hari atau sore hari. Dari ilmu yang saya peroleh saya terapkan dilahan pribadi saya dengan menerapkan pertanian organik”.

Sekolah dimana saja tidak perlu di gedung, tidak harus di kampus, alam semesta itulah sekolahan semestinya, sekolahan yang sejati dan sekolah yang paling hakiki!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *