Perempuan menjaga ketahanan pangan Desa

Gambar : gontong royong menanam padi ladang di Desa Renah Pelaan, Kec. jangkat - Merangin

Perjuangan perempuan tidak hanya berhubungan dengan masalah mengurus rumah saja namun juga sebagai pejuang kehidupan. Perempuan di Desa Renah Pelaan membuktikan mereka memiliki peran penting bagi ketahanan pangan di desanya. Dengan keterbatasannya berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan. Kebiasaan harian yang mereka jalani mempunyai andil dalam menjaga kearifan lokal. Setiap keluarga mempunyai kebiasaan menanam padi untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga dan mereka selalu menanam benih lokal yang telah dibudidayakan secara turun temurun. Terdapat 11 benih padi lokal dari desa Renah Pelaan.

Hikmawani (57)  bilang jenis padinya yaitu: padi silang payo, padi biaso, padi merah, padi kuning, padi abang sabung, padi arang, padi nenek kandal, padi halus, padi ranting aur, padi ketumbar, dan padi itam. Hikmawani sedang asik memilih benih kacang merah yang mau ditanam di ladang tidak jauh dibelakang rumahnya. Saya lihat itu benih lokal yang memang sengaja disiapkan.  “Setiap penanaman apapun jenis tanamannya menjadi kebiasaan bagi kami untuk selalu mempersiapkan benih untuk musim tanam berikutnya,”katanya.

Kalaupun nantinya belum ditanam mereka biasa menyimpan benih tersebut di salah satu ruangan rumahnya dengan wadah tertutup dan sebagian digantung dekat tungku. “Kalau untuk benih padi biasanya disimpan di bilik (bangunan kecil khusus penyimpan padi yang biasa ada di belakang rumah  dan di sawah),” ujarnya. “Benih apa yang sekarang ada di rumah buk?”  Beliau menyebutkan beberapa benih padi, cabai lokal, kacang merah, buncis, dan kentang. Hikmawati mengeluarkan kantong yang isinya sirih, kapur, gambir, pinang, kulit kayu kirai/ kunyal, tembakau.  “Ini alat tempur, kalau tidak lengkap bisa jadi gagal berangkat ke ladang,”selorohnya,

Hikmawani meracik sirih kemudian mengunyahnya tidak lupa menambahkan tembakau yang di letakan di bibir atasnya sebagai sugi. Sambil melanjutkan aktifitasnya memilih benih dia mengatakan kalau sirih ini pengganti jajanan baginya karena mereka jarang membeli makanan ringan seperti kue bungkusan sebagai pengantinya “Kami terbiasa memakan sirih untuk mengurangi rasa lapar dan haus saat sibuk bekerja di ladang dan ini juga menghangatkan tubuh”. Kebiasaan yang dilakukan perempuan-perempuan ini secara alami telah membuat pertahanan diri terhadap penyakit karena telah memakan berbagai macam bahan alami yang bermanfaat untuk kesehatan.

Umumnya sistem bertani di Renah Pelaan, kecamatan jangkat, kabupaten Merangin – Jambi,  masih manual dan alami. Sebagian ada juga terpengaruh dari luar sehingga mereka sering mengunakan racun kimia untuk membunuh rumput sebelum penanaman “Tanpa mereka sadari tanah yang dulunya subur sekarang menurun produktifitasnya terlihat dari hasil panen yang menurun beberapa tahun belakangan ini,”kata Hikmawani.

Dia tertarik mengikuti sekolah lapang yang ditawarkan Mitra Aksi mengenai cara mengetahui kondisi biofisik tanah seperti struktur tanah, kandungan mineral tanah, kemampuan tanah menahan air dan mineral, uji ph tanah,serta mengenal makhluk hidup yang ada didalam tanah yang membantu meningkatkan kesuburan tanah. Dari pelatihan tersebut beliau menyadari mengapa kondisi tanah di ladangnya kurang baik dan hasil panen selalu menurun. “Mungkin tanah diladang saya sudah rusak dan hewan tanahnya mati karena sering terkena Racun rumput”. Usai pelatihan, dia mulai berhenti menggunakan rondap. kembali melakukan pembersihan lahan secara manual mengunakan sabit dan cangkul.

“Biasanya rumput tersebut dibenamkan  kedalam tanah dan nantinya diberi pupuk kandang/kompos/ Dulu mah tanaman saya tanpa dipupuk pun hasilnya bagus, tapi sekarang mungkin karena tanahnya sudah rusak makanya saya mulai memupuk dengan pupuk kompos yang saya buat sendiri sesuai yang saya pelajari dari pelatihan sekolah lapang Mitra Aksi”.  Hikmawani merupakan salah satu petani perempuan yang tangguh dan mau belajar.Dia sehari-hari mengabiskan waktu di ladang dan mengolah kopi untuk diminum keluarganya. Selain bertani secara tradisional, Hikmawani juga mempertahankan tradisi menganyam dengan membuat kidding, tikar, hiasan rumah yang terbuat dari pandan dan rotan.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *