SAMPAH MENJADIKAN BERKAH

102 Views

Salah satu permasalahan lingkungan yang erat kaitannya dengan pembangaunan adalah tentang pengelolaan sampah. Sampah mempunyai dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap lingkungan sekitar diantaranya pencemaran air, udara dan tanah, meningkatnya efek gas rumah kaca dan sumber penyakit. Permasalahan sampah di kota besar dan kecil hampir sama, begitu juga di wilayah pedesaaan atau kelurahan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sampah yang dihasilkan juga semakin bertambah dan beragam.

Untuk mengatasi masalah sampah di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat maka Pemkab Tanjabbar telah menerbitkan Peraturan Daerah No 7 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu juga Dinas Lingkunga Hidup (DLHD) Kab. Tanjabbar telah memfasiliatsi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Desa Lubuk Terentang. TPA di Desa Lubuk Terentang ini beroperasi sejak akhir tahun 2019 dan melayani pembuangan sampah di tiga Kecamatan yaitu Kec. Tungkal Ilir, Kec. Betara dan Kec. Bramitam dengan luas lahan yang dimanfaatkan untuk TPA ini seluas 9,8 Ha dengan kapasitas Landfill mencapai 0,998 Ha. Kapasitas sampah setiap harinya mencapai 40 ton di tiga kecamatan ini. (Sumber: DLHD Tanjabbar 2019).

Limbah cair yang berasal dari TPA Desa Lubuk Terentang selama ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TPA secara maksimal. Padahal dari limbah cair tersebut bisa dijadikan pupuk organik  cair yang bisa dimanfaatkan untuk perkebunan dan pertanian. Apalagi masyarakat di Desa Lubuk Terentang dan sekitarnya mayoritas pendapatan adalah dari hasil perkebunan dan pertanian.  Melihat kondisi dan peluang untuk dikembangkannya limbah TPA ini menjadi pupuk organik cair maka SKK Migas Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) bersama PetroChina International Jabung Ltd, Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Kab. Tanjabbar dan  Yayasan Mitra Aksi melakukan “Program integrasi Pengolahan Limbah Sampah untuk mendukung pertanian organik dan ketahanan pangan di areal TPA Desa Lubuk Terentang, Kec Batara, Kab. Tanjung Jabung Barat”.

Program dampingan yang dilakukan oleh Mitra Aksi ini telah dilaksanakan selama 4 bulan (September – Desember 2020). Dalam melaksanakan kegiatan program, Mitra Aksi berperan langsung mendampingi masyarakat di lokasi program yaitu di Desa Lubuk Terentang dengan melakukan kegiatan yang bersifat edukasi dan penyadaran bagi masyarakat dampingan akan pentingnya kembali ke pertanian organik dengan memanfaatkan limbah cair dari TPA. Proses pendampingan program diawali dengan pembukaan lahan tampa bakar yang dijadikan sebagai Sekolah Lapang. Untuk lokasi Sekolah Lapang menggunakan lahan milik Pemda Tanjabbar. Lahan tersebut selama ini tidak dimanfaatkan oleh Pemda Tanjabbar (lahan tidur). Selanjutnya melakukan pendampingan tekhnis perencanaan tata guna lahan berdasarkan jenis tanaman holtikuktura, pendampingan tekhnis pengolahan limbah cair dari TPA menjadi pupuk organik cair, pendampingan pembuatan pupuk organik padat, biopestisida, ZPT dan pengendalian hama.

Untuk melakukan pembelajaran bersama masyarakat mengenai praktek pertanian organik maka Mitra Aksi melakukan pendampingan dan pembelajaran bersama masyarakat dan petani di “Sekolah Lapang”. Sekolah Lapang yang luasnya sekitar 1.6 hektar ini merupakan suatu wadah atau tempat belajar bagi masyarakat dan petani untuk saling belajar dan berbagi pengalaman tentang praktek-praktek pertanian organik. Sekolah Lapang ini juga dilengkapi dengan “Saung Belajar” dan beberapa demplot-demplot tanaman jenis holtikultura, pangan dan buah-buahan yang didampingi langsung oleh Fasilitator Lapangan (Field Facilitator) Mitra Aksi. Di Sekolah Lapang inilah masyarakat belajar langsung bagaimana cara mengolah lahan, berapa kandungan Ph tanah, cara pembibitan, cara membuat pupuk organik padat dan cair, cara membuat biopestisida alami, ZPT, cara pembibitan, cara menanam, cara memupuk, cara menyiram tanaman, memantau perkembangan tanaman, mengatasi hama hingga panen.

Selama pendampingan program, demplot-demplot yang ada di Sekolah Lapang ditanami dengan berbagai macam jenis tanaman holtikultura, pangan dan buah-buahan. Penentuan jenis tanaman yang akan ditanam merupakan hasil kesepakatan bersama masyarakat, petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang terlibat aktif belajar di Sekolah Lapang. Adapun  jenis tanaman yang ditanam di demplot-demplot Sekolah Lapang terdiri dari jenis holtikultuta (kangkung, kacang panjang, timun, cabe dll), jenis tanaman pangan  (kacang tanah dan jagung), dan tanaman jenis buah-buahan  (pepaya dan pisang). Di Sekolah Lapang  

Bupati tanjung Jabung Barat Dr. Ir. H. Safrial, M.S melakukan kunjungan ke sekolah lapang dan panen raya Organik di Desa Lubuk Terentang.

Dari proses pendampingan yang telah dilakukan melalui Sekolah Lapang telah menarik minat masyarakat untuk ikut terlibat aktif di setiap kegiatan program. Selama 4 bulan pelaksanaan program ada sekitar 75 petani yang terlibat aktif yang terdiri dari 25 orang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan 50 orang petani lainnya. Adanya peningkatan kapasitas masyarakat, petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam pembuatan pupuk organik bagi masyarakat yang telah terlibat aktif di Sekolah Lapang. Mereka saat ini telah mampu memanfaatkan limbah dari TPA yang dijadikan sebagai pupuk organik cair dan membuat sendiri berbagai jenis pupuk organik (padat dan cair), biopestisida dan zat perangsang tumbuh (ZPT) serta Plant Growth Promoting Rhizhobacteria (PGPR)/bakteri untuk pemicu pertumbuhan akar. Semua bahan dan media yang digunakan untuk pembuatan pupuk tersebut memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitar petani khususnya di area TPA. Bahkan saat ini masyarakat dampingan sudah mampu membuat pupuk organik padat sebanyak 2 ton, pupuk organik cair yang bahannya berasal dari limbah cair dari TPA sebanyak 500 liter. Semua produk hasil pupuk padat dan cair tersebut sudah dimplemantasikan dan digunakan sebagai pupuk dasar untuk semua jenis tanaman di Sekolah Lapang.

Selain itu juga, potensi limbah cair yang ada di TPA Lubuk Terentang jika kualitasnya terus dapat ditingkatkan teruatama kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, dapat menjadi usaha produksi pupuk cair berbahan limbah rumah tangga bagi kelompok masyarakat disekitar area TPA. Hal ini karena potensi limbah cair yang tersedia di areal TPA mencapai lebih dari 20.000 liter. Ini artinya jika kelompok mampu memproduksi pupuk organik cair berbahan limbah rumah tangga  rata-rataperbulan 1.000 liter dan harga per liter Rp. 15.000akan diperoleh pedapatan sebesar Rp 15.000.000,- (sebagai perbandingan harga pupuk organik cair pabrik di pasaran per liter Rp. 60.000,-.

Dari hasil pendampingan selama 4 bulan di Sekolah Lapang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan petani sudah berhasil memanen 400 Kg jagung, 80 Kg cabe merah, 100 Kg kacang panjang, dan 2.400 ikat kangkung. Selain itu, di hamparan lokasi Sekolah Lapang dibudidayakan dengan sistem tanam tumpang sari ini yang terdiri dari buah pepaya, singkong, pisang, dan kacang tanah dll. Berdasarkan kesepakatan anggota kelompok yang terlibat di Sekolah Lapang untuk hasil penjualan hasil panen dikelola di Kas Kelompok KWT. Selain anggota kelompok mendapatkan pendapatan yang dikelola oleh kelompok, mereka juga boleh mengambil hasil panen untuk kebutuhan dan konsumsi rumah tangga. Secara tidak langsung masyarakat telah mulai mengelola, mengembangkan dan mengkonsumsi pangan sehat untuk keluarga. Bahkan mereka juga sudah mulai mereflikasikan pertanian organik di lahan pekarangan sekitar rumah mereka.

Pendampingan dan pembelajaran di Sekolah Lapang tidak hanya berdampak positif bagi masyarakat, petani dan KWT saja namun juga berdampak baik bagi pemerintah kecamatan. Di awal program kegiatan di Sekolah Lapang Tantangan Tersendiri yang mana merubah kebiasaan dari penggunaan Bahan kimia dalam pertanian ke pertanian ramah Lingkungan (Organik. Namun setelah melihat hasil dan perkembangannya menjadi tertarik untuk mengembangkan dan memperluas areal sebagai kawasan pertanian organik terpadu di Kec.Betara. Lokasi Sekolah Lapang mulai menarik minat dari instansi lain, seperti Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Provinsi, Kapolres Tanjang Jabung Barat dan Pemerintah Desa serta masyarakat sekitar untuk menjadikan kawasan yang ada sebagai Central Pembelajaran Pertanian Organik.

2 Comments

  • Pendampingan yang dilakukan sangat inspiratif dan perlu dikembangkan lebih luas lagi di daerah-daerah, karena pada umumnya para petani masih banyak yang belum mengenal dan mengaplikasikan pertanian organik. Hal ini tentunya menjadi perhatian khusus bagi semua pihak termasuk stakeholders terkait untuk menggalakkan pertanian organik ini agar tercipta swasembada pangan sehat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    Reply
    • Terima kasih Puspita Muwafiq atas respon nya. Iya kita perlu bersama-sama mulai untuk melakukan hal yang ramah lingkungan. Salam sehat

      Reply

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *