‘Sekolah Kampung’ Wilayah Selatan Papua: Tahap Pertama Rampung

87 Views

Selasa, 17 November 2020, berakhir sudah kegiatan utama ‘Sekolah Kampung’ untuk wilayah selatan Papua yang diselenggarakan di Kompleks Paroki Wendu, Kampung Waninggap Nanggo, Distrik Semangga, Merauke. Tempat pelaksanaan ini menarik, karena di tempat yang sama, pada awal abad-20 lalu, pernah dilaksanakan program pendidikan serupa dengan nama ‘Samb Kai‘, artinya ‘jalan besar’ menuju perubahan dan perbaikan dalam hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dengan alam semesta, dan dengan Tuhan Sang Pencipta. Lulusan dari program yang diprakarsai oleh para rohaniawan Katolik dari tarekat Misi Hati Kudus (Missionarii Sacratissimi Cordis, MSC) itulah yang menjadi putra-putra Papua perintis pembangunan kampung mereka mejadi ruang hunian dan kehidupan yang lebih baik, asri, rukun, tertib, dan aman. Adapau  Kegiatan ini adalah rangkaian pertama dari beberapa kegiatan program Eastern Indonesia Forest Facility (EIFF) yang direncanakan akan berlangsung selama dua tahun, kerjasama antara EcoNusa (Jakarta), INSIST (Yogyakarta), dan Caritas (Merauke).

Dewan Guru (Tim Fasilitator) dari PerDikAn INSIST Yogyakarta dan Mitra Aksi Jambi, mengakhiri rangkaian acara selama 16 hari efektif itu, sejak 2 November 2020, dengan menyerahkan kembali penyelenggaraan dua hari tersisa berikutnya, 18-19 November 2020, ke mitra lokal (Caritas Merauke) untuk memandu para peserta menyusun rencana penugasan (kerja lapangan) mereka. Selama tiga bulan ke depan, sampai pertengahan Februari 2021, para peserta akan melakukan kerja lapangan di desa (kampung) masing-masing, menerapkan semua pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka pelajari selama dua minggu lebih di Wendu. Selama belajar di Wendu, mereka dibagi dalam dua kelas simultan: [1] Kelas Sistem Pangkalan Data & Informasi Kampung; dan [2] Kelas Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan. Karena itu, segera setelah kembali ke kampung masing-masing, para peserta tersebut (2 orang dari setiap kampung) ditugaskan untuk: [1] membangun sistem pangkalan data dan informasi kampung berbasis program komputer sistem informasi geografis; dan [2] membangun ‘sekolah lapang’ (SL) budidaya pertanian berkelanjutan yang sesuai dengan keadaan kampung masing-masing (lahan demplot, rumah pupuk, rumah benih, dan lain-lain).

“Memang sengaja kami menyerahkan proses fasilitasi penyusunan rencana tindak lanjut itu kepada Caritas,” jelas Hambali, Ketua Dewan Guru dari PerDikAn Insist. “Karena, mereka lah yang lebih tahu keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Selain itu, untuk mempertegas kepada para peserta bahwa rencana kerja lapangan itu adalah memang kepentingan mereka sendiri, bukan kepentingan kami dari INSIST atau EcoNusa.” Sementara itu, Pastor Miller Senduk MSC (Direktur Caritas Merauke) dan Hary Woersok (Manajer Program Caritas Merauke) juga menegaskan akan melakukan pemantauan dan kunjungan berkala ke semua kampung peserta selama masa praktek lapangan tersebut.

Adapun Pastor Andreas (Andy) Fanembu Pr., Pastor Paroki Wendu, menyatakan akan menjadikan lahan pekarangan luas di kompleks paroki nya sebagai lahan percontohan (demplot) tanaman pangan bebas asupan kimia buatan. Dia akan mengajak warga parokinya menerapkan apa yang sudah dipelajari di ‘Sekolah Kampung’. Bahkan, peta latihan yang dibuat oleh para peserta ‘Sekolah Kampung’ berdasarkan data urut waktu (time series) citra satelit selama beberapa tahun, Pastor Andy sudah melakukan tindakan nyata langsung, menutup akses jalan truk pengangkut pasir ke pantai Wendu yang semakin tergerus akibat penambangan pasir di sana.

sumber tulisan : perdikan.org

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *