TFCA – Sumatera

KONSERVASI BENTANG ALAM PENYANGGA TNKS BERBASIS TATAGUNA LAHAN

Pembukaan dan perambahan TNKS dan penyangganya 65 % dipicu oleh alasan keterbatasan lahan pertanian produktif, atau lahan yang ada tidak lagi menghasilkan (kritis). Berdasarkan data Dinas Perkebunan Kabupaten Merangin, luas lahan kritis dalam kawasan hutan 42.332 ha, sangat kritis 27.215 ha. Sedangkan di luar kawasan hutan (APL) 33.348 ha dan sangat kritis  15.255 ha. Lahan-lahan pertanian yang oleh masyarakat dianggap tidak produktif dan menjadi kritis umumnya disebabkan oleh teknis pengolahan lahan yang tidak terencana dengan baik, penggunaan input kimia yang tinggi serta jenis komoditas yang dibudidayakan umumnya monokulture. Sisanya sebesar 35% dilakukan oleh para pendatang dari luar daerah yang melalui proses jual beli lahan maupun karena melakukan perambahan.

Jika praktek-praktek pengolahan lahan tidak dibenahi pada tingkat masyarakat (petani) , maka sudah dapat dipastikan luasan hutan lindung di penyangga TNKS Merangin akan terus berkurang dan luasan lahan pertanian kritis dan terlantar akan terus bertambah. Padahal dalam konteks perlindungan kawasan, hutan-hutan lindung yang ada merupakan buffer zone TNKS yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, sumber cadangan air bagi jutaan warga yang ada di provinsi Jambi dan Bengkulu, serta berkontribusi secara nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.

Di tingkat masyarakat (petani) sadar akan dampak dari praktek pengolahan lahan yang terjadi selama ini mengancam keberlangsungan kehidupannya dan kelestarian hutan lindung di kawasan TNKS. Namun, karena alasan tuntutan ekonomi dan kondisi lahan pertanian yang semakin tidak produktif mendorong untuk membuka lahan baru di kawasan hutan. Pemicu lainnya adalah dampak dari tekanan pasar untuk jenis komoditas tertentu, seperti kopi dan kayu manis mendorong petani melakukan ekspansi lahan dengan membuka lahan baru dikawasan hutan untuk dijadikan kebun.

Untuk mengurangi pembukaan kawasan hutan lindungan di kawasan penyangga TNKS, petani harus mendapatkan penyadaran dan transfer pengetahuan tentang teknis pengelolaan sumberdaya alam berbasis tataguana lahan secara berkelanjutan. Pengalaman pendampingan  Inisiatif model Implementasi Model Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan dan Rendah Biaya di Kawasan Penyangga TNKS Kabupaten Merangin dengan dukungan TFCA Sumatera tahun 2015-2016, telah memberikan pengetahuan baru bagi petani dalam mengatasi masalah penggunaan lahan secara lebih produktif dan berkelanjutan.

Berdasarkan pembelajaran di tingkat petani di 4 desa yang menjadi lokasi model, yaitu Desa Muara Madras, Pulau Tengah, Rantau Kermas dan Renah Alai di lanskap dataran tinggi TNKS Kecamatan Jangkat, hasilnya mulai dapat dirasakan petani dalam mengatasi masalah yang dihadapi teruma dalam mengurangi penggunaan input kimia. Implementasi proyek juga mulai menunjukkan hasil positip dalam merehabilitasi kembali lahan kritis untuk dikelola secara produktif oleh petani. Dampak positip lainnya adalah petani mulai berhasil mengurangi kecenderungan petani membuka lahan baru dikawasan hutan dengan alasan lahan pertanian yang ada tidak lagi produktif atau subur. Berdasarkan data lapangan yang diperoleh selama pembelajaran tahun 2016, 8 dari 10 petani yang awalnya memulai membuka lahan di sekitar hutan lindung kawasan penyangga telah kembali mengolah lahan yang sebelumnya ditinggalkan menjadi semak belukar.